Ads-728

Cat-1

Cat-2

Cat-3

Cat-4

» » » Boom....Boom....Boom...


INDONESIA dikenal bangsa yang bisa memberikan kenyamanan bagi warga negara asing. Tata krama dan sikap ramah bangsa Indonesia sudah dikenal di belahan bumi ini. Namun kenyataan itu tidak berlaku bagi bangsa sendiri. Mereka terus dihantui rasa ketakutan.

Maraknya serangkaian teror bom sejak tahun 2000 menjadi alasan. Langkah antisipasi pemerintah dengan membentuk Detasemen 88 Antiteror yang berada di bawah kepolisian ternyata belum membuahkan hasil. Ditambah banyak kalangan yang menilai intelijen di negeri ini loyo.

Selama ini semua pihak yang seharusnya bertanggungjawab atas maraknya teror bom sepertinya lepas tangan. Begitu juga dengan pelaku yang secara biadab menciptakan keresahan di tengah masyarakat. Itulah mental tempe yang menjadi otak di balik serangkaian bom ini.

Secara fakta, para otak teror berhasil menciptakan keresahan di Jakarta maupun kota lain. Tragisnya aparat penegak hukum di negeri ini mengaku kesulitan melacak serangkaian teror bom. Berbeda dengan penanganan terhadap kasus bom Bali, bom Ritz Carlton, JW Marriott serta Kedubes Australia.

Perbedaan ini melahirkan sederet wacana motif di balik teror bom. Pengalihan isu pemerintah, aksi kelompok orang anti-pemerintahan serta modus untuk meraih keuntungan dari pihak asing. Maklum sasaran yang dituju para pelaku teror tidak seperti biasanya. Teroris selalu meledakkan lokasi yang banyak warga negara asingnya.

Kali ini modusnya berbeda. Paket yang berisi bahan peledak dikirimkan untuk individu seperti tokoh JIL, Ulil Abshar Abdalla, musisi Ahmad Dhani, Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BNN Komjen Pol Gories Mere, dan Ketua Pemuda Pancasila Yapto Suryosumarno. Semuanya merupakan putra Indonesia, bukan warga asing.

Simak saja apa yang disampaikan Amir Jamaah Ansharut Tauhid JAT Abu Bakar Baasyir. Tokoh yang diklaim penegak hukum sebagai teroris ini menilai Densus 88 sebagai otak di balik serangkaian teror bom buku. Tujuannya hanya ingin menunjukkan bahwa ancaman teroris masih ada dan mengganggu stabilitas negara.

Densus 88 sengaja memelihara teroris untuk melakukan sejumlah teror di masyarakat. Teroris dipelihara, karena selama teroris masih ada tentu bantuan uang akan terus mengalir. Itu versi atau penilaian Baasyir.
Teror bom juga bisa saja dilakukan beberapa pihak yang pro dengan pemerintahan Susilo Bambang Yudhono (SBY)-Boediono. Aksi ini sengaja diciptakan agar perhatian orang banyak tertuju kepada teror bom, bukan serangkaian masalah besar yang disukan dilakukan pemerintah. Pendek kata, pengalihan isu.

Kemudian sekelompok orang yang tidak suka dengan kebijakan SBY terkait politik atau kebijakan strategis. Setelah merasa dilecehkan SBY, sekelompok anti-SBY itu melakukan serangkaian teror. Targetnya tentu membuat masyarakat tidak lagi percara dengan pemerintah, dalam hal ini SBY. Pasalnya, serangkaian aksi teror yang dilakukan cukup rapih dengan modus baru.

Untuk membuat keresahan, para pelaku teror sudah berhasil. Saat ini, masyarakat seperti mengalami ketakutan akut saat menerima satu bingkisan. Seperti terjadi di beberapa daerah di Jakarta. Bingkisan yang diledakkan pasukan Gegana sama sekali tidak mengandung unsur peledak.

Untuk sementara, bukan persoalan penting membicarakan siapa dalang, apa motif dan berbagai pernyataan lainnya. Intinya, aparat penegak hukum harus bekerja maksimal untuk menghentikan aksi toror. Bagaimana caranya, tentu aparat penegak hukum lebih pandai dari pelaku teror. Akhiri segera dagelan yang membuat negeri ini semakin lucu. Lucu karena aksi teror dibuat berseri seperti sinetron, tanpa ada kuasa untuk menghentikannya. Wallahu a'lam Bisshawab...



«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Siape Saye? Unknown

Terlahir di desa Kuala Secapah, desa kecil yang terletak di pinggiran laut Kalimantan Barat. Hobby memancing, jalan-jalan, dan mencicipi kuliner di berbagai daerah serta mengisi waktu senggangnya di blogsphere. Untuk menambah jalinan silaturrahmi bisa menghubungi di bawah ini

Tidak ada komentar

Leave a Reply

Box Office

Cat-6