Ads-728

Cat-1

Cat-2

Cat-3

Cat-4

» » » Merokok Adalah Perangkap Kemiskinan (Edisi Khusus Hari Anti Tembakau Internasional)

Menyambut hari anti tembakau internasional 31 Mei 2011, saya mencoba menuangkan sedikit hasil renungan saya mengapa banyak anak putus sekolah, kurang gizi, dan tingkat kesehatan rendah di negara kaya raya Indonesiaku tercinta. Dalam tulisan ini saya tidak memberikan kesimpulan andalah sebagai pembaca yang memberikan kesimpulan. Selamat membaca.
Tahun 2008 disebuah stasiun tv mewawancari beberapa orang yang saat itu sedang merokok berikut dialognya:

Reporter : Pendapat bapak tentang biaya hidup saat ini ?
Pemulung : Makin susah mbak, harga pada naik semua!! (Sambil menghisap rokoknya dalam-dalam).
Reporter : Berapa banyak rokok yang bapak habiskan dalam sehari?”
Pemulung : 2 bungkus mbak
Reporter : Berapa rata-rata penghasilan bapak seharinya?
Pemulung : Gak tentu mbak, rata-rata  20ribu sehari
Sang reporter kemudian beralih pada seorang tukang becak yang sedang duduk santai sambil merokok diatas becaknya. Reporter bertanya dengan pertanyaan yang hampir sama seperti yang ditanyakan pada pemulung. Jawabannya pun hampir sama. Yang berbeda cuma penghasilannya yang sampai 40ribu sehari. Tapi dia menghabiskan sedikitnya 3 bungkus rokok sehari.
Ketika Sang reporter bertanya kepada pemulung mengapa merokok, jawabannya, “sudah kebiasaan mbak, gak bisa berhenti“. Jawaban situkang becak lebih mengagetkan, “daripada bengong mbak” katanya. :D

Coba kita lihat ke lain cerita mengenai kekurangan gizi, pendidikan, dan kesehatan apa kabarnya?????

Gizi Buruk:
Jubaedah, gizi buruk yang diderita anaknya disebabkan keterbatasan ekonomi. Terlebih sang suami tidak memiliki pekerjaan tetap. Jangankan untuk membeli susu, untuk kebutuhan makan sehari-hari saja tidak tercukupi. ’’Suami saya kerja serabutan,’’
Hal yang sama dikatakan Wulan (23), ibu dari penderita gizi buruk Bintang. Wulan mengaku anaknya menderita gizi buruk karena keadaan ekonomi. Pendapatan suaminya tidak menentu, sedangkan dia sendiri hanya ibu rumah tangga yang tak punya penghasilan tetap. ’’Kami berharap ada perhatian dari pemerintah,’’ harapnya. :D

Pendidikan:
Disini saya tidak akan memberikan contoh siapa yang tidak sekolah tapi saya menuliskan alasan yang paling banyak dikeluarkan ketika seseorang tidak bisa sekolah.
Alasannya :
Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah. Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya?

Kesehatan :
Sudah gak jaman kalau kita masih tidak tahu bahwa pengisi rumah sakit paling banyak adalah masyarakat ekonomi menengah kebawah. Mulai penyakit kecil sampai yang dulunya hanya diindap oleh orang besar(kaya) seperti jantuk, strok, hepatitis dl. Dan sudah tidak heran kalau banyak yang mengeluh dan yang disalahkan adalah pemerintah.
Berikut ini adalah 10 jenis penyakit terbanyak ditemui pada penduduk Indonesia : 1. Penyakit jantung 2. Diabetes 3. Stroke  4. TBC 5. Pneumonia 6. Gagal ginjal 7. Diare 8. Kanker 9. Depresi 10.Hepatitis. :D

Penyebab penyakit jantung
Dalam laporan Surgeon General 2010. Dikutip dari Dailymail, Jumat (10/12/2010), laporan setebal 700 halaman itu menekankan hubungan asap rokok dengan serangan jantung. Penelitian membuktikan dampak negatif rokok bisa muncul lebih cepat dari yang diduga, sehingga sebatang rokok saja sudah cukup untuk memicu serangan jantung.
Sumber: detikHealth.com
Kita kembali ke pemulung dan tukang becak diatas. Kalau si pemulung yang berpenghasilan Rp.20.000,- sehari dipotong 2 bungkus rokok (kira-kira Rp.6.000,- perbungkus). Jadi sisa Rp.8.000,-  untuk biaya makan anak dan istrinya. Si tukang becak juga dengan penghasilan Rp.40.000,-  hanya bisa membawa pulang Rp.22.000,- saja.
Sekarang coba kita lihat apa yang bisa kita dapatkan dengan uang Rp.6.000,- untuk satu hari anda bisa membeli salah satu produk dibawah ini guna penambahan gizi anak:
  1. ½ kg telur ayam
  2. ½ kg ikan
  3. 6 sachet susu renteng
Bagaimana jika uang Rp.6.000,- x 30 hari = Rp.180.000,- apa saja yang bisa kita beli untuk perkebangan cizi anak kita?
  1. Susu Kental Manis Kaleng  4 x Rp.10.000,- = Rp.40.000,-
  2. Madu 330 ml = Rp.16.000,-
  3. Ikan 2kg x Rp15.000,- = Rp.30.000,-
  4. Telur 2kg x Rp.12.000,- = Rp.24.000,-
  5. Daging Ayam 1kg x Rp.20.000,- = Rp.40.000,-
  6. Buah-buahan Rp.30.000,-
Bagaimana jika uang sebesar Rp.180.000,- kita tabung selama 3 tahun maka jumlah uang tabungan kita adalah 36 bulan x Rp.180.000,- = Rp.6.480.000,-  maka uang ini bisa untuk tambahan anak kita masuk SMP atau SMA.
Bagaimana jika mulai anak kita kelas satu SD kita mulai menabung sebulannya Rp.180.000,- maka uang tabungan kita adalah 12 bln x 12 tahun x Rp.180.000,- = Rp.25.920.000,- (DUA PULUH LIMA JUTA SEMBILAN RATUS DUA PULUH RIBU RUPIAH) dengan tidak merokok dan menabung uang yang seharusnya dibelikan rokok setiap harinya Rp.6.000,- insyaalloh kita bisa memasukan anak kita ke jenjang yang lebih tinggi lagi. :D

Coba kita lihat hasil penelitian di bawah ini:
Tiga dari empat keluarga miskin mengalokasikan anggaran rumah tangga untuk rokok. Survei Sosial Ekonomi Nasional bahkan mencatat, pengeluaran untuk rokok lebih besar dibandingkan untuk belanja harian dan biaya pendidikan. Jadi merokok bukan hanya berbahaya bagi kesehatan tapi juga bagi ekonomi masyarakat. Laporan reporter Mustakim dari KBR68H.

Survei LSM Hellen Keller International dan Yayasan Indonesia sehat juga menyebutkan, 3 dari 4 keluarga miskin adalah perokok. Konsultan Senior Hellen Keller Dokter Roy Tjiong mengatakan,“Kebutuhan rokok ini menggerus belanja rumah tangga dan pendidikan. Belanja rokok masih lebih besar dibanding belanja lauk ditambah pendidikan ditambah kesehatan. Artinya rokok telah menjadi komoditi inelastik, cuma di bawah beras sehingga dianggap sebagai kebutuhan pokok. Apa yang terjadi sebenarnya rokok telah berhasil memposisikan diri dalam bahasa marketing menjadi produk yang elastik sehingga apa pun dikejar.”
Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia Arum Atmawikarta mengatakan, “Kalau begini terus, maka masa depan generasi mendatang bakal buram. Lost generation artinya generasi yang hilang atau generasi yang sia-sia. Jadi generasi yang tidak mempunyai kemampuan fisik yang kuat, tidak mempunyai kemampuan intelektual yang kuat dan yang produktifitasnya rendah.”

Selain mengancam gizi dan meningkatkan risiko kematian balita, rokok juga mengancam pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pengamat ekonomi pembangunan, khususnya soal dampak rokok, Setyo Budiantoro mengatakan, “Rokok disamping berdampak buruk pada kesehatan juga menyerap ekonomi masyarakat miskin yang sudah sangat terbatas. Jadi membebankan dirinya sehingga mereka terjebak dalam perangkap lingkaran setan. Jadi semakin memiskinkan.”
“Pemerintah memang punya banyak program yang diniatkan untuk mengentaskan kemiskinan. Tapi bila pola konsumsi rokok tidak diubah,”  kata Setyo, maka tidak akan ada perubahan signifikan.

Berbagai penelitian tentang rokok telah terdokumentasikan dengan baik. Bukti-bukti ilmiah ini seharusnya dapat dijadikan sebagai dasar dalam penetapan kebijakan tentang pengendalian tembakau. Tetapi apa mau dikata, pemerintah seolah menutup mata, hati dan telinga dalam persoalan tembakau. Seharusnya pemerintah berkewajiban melindungi rakyatnya dari adiksi tembakau.

Walau berbagai program terkait kemiskinan telah diluncurkan, namun kenyataannya jumlah penduduk miskin masih cukup besar. Faktanya, konsumen rokok terbesar di Indonesia adalah warga miskin. Walau miskin, mereka tetap merokok. Ketagihan tembakau/rokok telah menghilangkan logika berfikir dan akal sehat. Perokok miskin lebih memilih membelanjakan uang yang terbatas untuk membeli rokok dibandingkan makanan bergizi buat keluarganya. Porsi belanja rokok yang dikeluarkan setiap bulan melebihi belanja pendidikan dan kesehatan.
Di berbagai negara, program pengurangan kemiskinan telah dikaitkan dengan program pengendalian tembakau, dan berhasil. Kenapa kita tidak melakukan hal yang sama?

Bagaimana rasanya diasingkan gara-gara Anda miskin? Bagaimanakah pilunya hati Anda dilarang bermain, bersantai, menikmati hidup hanya karena Anda tak punya uang? Bagaimana rasanya bila Anda (terpaksa) hany akuasa berdiri di balik pagar tinggi, memegangnya, dengan (hanya) tatapan mata menembus ragam keindahan fasilitas hidup di balik sana, lantara Anda miskin?
AYAH, BUNDA, OM, TANTE, KAKAK, KAKEK, NENEK APA SALAH KAMI???!!!!!!



«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Siape Saye? Unknown

Terlahir di desa Kuala Secapah, desa kecil yang terletak di pinggiran laut Kalimantan Barat. Hobby memancing, jalan-jalan, dan mencicipi kuliner di berbagai daerah serta mengisi waktu senggangnya di blogsphere. Untuk menambah jalinan silaturrahmi bisa menghubungi di bawah ini

1 komentar

Merokok Adalah Perangkap Kemiskinan (Edisi Khusus Hari Anti Tembakau Internasional)
  1. keren banget mas tulisannya, saya setuju sekali kalau rokok adalah perangkap kemiskinan.....

    BalasHapus

Box Office

Cat-6