Catatan Akhir Pekan | Everyday is Weekend
Keluyuran | Makan | Jalan-Jalan

Marhaban Ya Ramadhan


Marhaban Ya Ramadhan - Di lembah nista kemanusiaan yang hina dina, dalam balutan lumpur noda dan dosa yang kotor, dalam ruang sempit kerangkeng nafsu jasadi dan syahwati manusia, dalam sahara kebertuhanan dan spiritualitas yang begitu gersang, begitu tandus, di tengah kemanusiaan yang telah terjatuh pada suatu titik nadir peradaban ummat masusia, di bawah hegemoni materialistik yang telah menjadikan manusia budak-budak materi, dengan kasih dan sayangNya, kita masih diberi sedikit waktu dan kesempatan untuk sekedar merasakan setetes kesejukan oase Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:


“Aku melihat seseorang dari ummatku menjulur-julurkan lidahnya karena kehausan. Setiap kali mendatangi sumur, ia dihalang-halangi (untuk minum darinya), lalu datanglah shaum Ramadhan menghampirinya, maka ia (shaum Ramadhan itu) memberinya minum  dan iapun minum dengan sepuasnya”. (HR. Bukhari-Muslim).

Sebulan penuh kita akan ditarbiyah melalui madrasah RamadhanNya yang agung. Rasa lapar, haus dan dahaga kita tundukan. Hawa nafsu kita taklukan, karena ketamakan akan kedua hal itulah yang kerap menjadi fitnah bagi ummat Muhammad saw., 
Maka barangsiapa yang sanggup menjamin (menjaga) apa yang berada di atas jenggotnya serta apa yang berada di antara dua paha, maka surga sebagai jaminannya.
Itulah manhaj Ilahi dalam membangunkan manusia yang tengah terlelap dalam buaian materialisme yang telah menggusur derajatnya dan kemudian mengembalikan kemanusiaan pada kemuliaannya yang agung. Di bulan ini kita akan melakukan gerakan revolusi spiritualitas dan indrawi (ats tsaurah ar rûhiyyah wal hissiyyah) ; ruang kebertuhanan dan spiritualitas kembali bersemi, hawa nafsu kembali kita kendalikan.

Dan ketika manusia mempunyai kendali atas nafsu syahwat dan naluri-naluri binatang lainnya, maka sesungguhnya ia telah berada di puncak peradabannya yang tinggi dan mulia (Abul Hasan ‘Alî an Nadawi, al Arkân al Arba’ah :182). Maka pantas jika di akhir QS. Al Baqarah/2 :183 Allah menegaskan bahwasannya shaum itu mewariskan ketaqwaan (lihat Fakhrurrâzî/5 :76). Dan tiada kemuliaan tanpa taqwa karena sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling taqwa.

Akan tetapi sebaliknya, kata an Nadawi, jika kemampuan mengendalikan itu lenyap, dan manusia menjadi disibukkan dengan urusan mengenyangkan perut dan menuruti segala bisikan nafsunya, itulah yang telah Allah gambarkan :’
Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binantang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka”. (QS. Muhammad/47:12).
Cahaya ramadhan telah dinyalakan, pintu surga telah dibuka lebar-lebar dan pintu neraka ditutup rapat-rapat. Saatnya, dengan sepenuh cinta dan kerinduan kita mengucap: 
Marhaban yâ Ramadhân” 

Arminareka Perdana Org

BERBAGI = Menambah REZEKI :

 

Sobat Catatan

Catatan akhir Pekan on Facebook