Ads-728

Cat-1

Cat-2

Cat-3

Cat-4

» » Gara - Gara Kopi Keliling Dunia ke 45 Negara

Surip Mawardi; Peneliti Kopi Indonesia

Pontianakpost.com - Peminum dan penikmat kopi di Indonesia sangat banyak. Begitu pula di Kalimantan Barat, tak sulit mencari warung kopi di sepanjang jalan raya. Ahli kopi, Surip Mawardi, sempat datang ke Kalbar bersama GIZ. Ia melihat potensi pengembangan tanaman kopi cukup besar di provinsi ini karena sudah ada pangsa pasarnya.Lewat keahliannya ini, Surip telah berkunjung ke 45 negara. Berikut petikan wawancara wartawan Pontianak Post Chairunnisya.

Sejak kapan Anda menekuni tanaman kopi?

Sejak lulus dari Universitas Gadjahmada Yogyakarta. Ketika lulus, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia mencari peneliti. Saya mendaftar dan diterima. Hingga sekarang saya di sana dan tidak pernah pindah. Hingga saat ini, saya sudah 31 tahun 11 hari meneliti kopi ini.

Apakah Anda mendaftar di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia tersebut karena memang tertarik pada tanaman kopi atau suka minum kopi?

Saya mendaftar karena ingin menjadi peneliti. Ketika mendaftar, juga belum menjadi penikmat kopi karena saya lahir di Klaten, dimana komoditasnya adalah teh. Penduduk di sana adalah konsumen teh dan kopi juga tidak familiar di sana. Setahun belajar di pusat penelitian baru tertarik pada kopi. Karena waktu itu kopi banyak ditanam petani dan membantu perekonomian mereka. Alasan lainnya mengapa saya tertarik, kopi ini lingkupnya itu internasional. Nilai dagangnya adalah nomor dua di dunia. Ketika itu mimpi saya adalah keliling dunia. Saya berharap dengan kopi bisa keliling dunia. Alhamdulillah terwujud. Kopi membawa saya keliling ke 45 negara selama 31 tahun 11 hari ini.

Menurut Anda, apakah banyak penikmat kopi di Indonesia?

Ada dua jenis konsumen di Indonesia. Ada peminum kopi, ada penikmat kopi. Peminum kopi ini hanya minum saja. Tidak memperhatikan mutu kopi yang diminumnya. Cirinya, biasanya minum dengan volume yang besar dan gula yang banyak. Kadang mencari yang murah, misalnya kopi dicampur jagung. Kopi disebut sebagai bahan stimulan, bukan hanya minum agar segar, tetapi juga agar kenyang. Peminum kopi ini banyak di Indonesia. 
Kalau penikmat kopi, betul-betul menghargai mutu kopi yang diminumnya. Cirinya adalah meminum kopi tanpa gula. Kopi yang diminum benar-benar high kualitas. Aroma dan rasa kopi menjadi hal yang essensial. Sekarang ini penikmat kopi di Indonesia sudah mulai banyak. Bahkan sudah mulai muncul kelompok coffee drinkers. 

Berkaitan dengan produksi kopi, Indonesia berada pada posisi berapa?

Di dunia, Indonesia sebagai produsen kopi terbesar setelah Brazil dan Vietnam. Posisi Indonesia yang ketiga ini sering gonta-ganti dengan Kolombia. Kadang Indonesia posisi tiga, kadang posisi empat. 

Berapa produksi kopi Indonesia setiap tahunnya? Di ekspor kemana saja?

Produksi kopi Indonesia kira-kira 10 juta sampai 12 juta karung atau 600 ribu ton sampai 700 ribu ton pertahun. Sebagian besar diekspor ke Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Italia, Singapura, dan sebagainya. 

Ada berapa jenis kopi di Indonesia?

Ada tiga jenis kopi di Indonesia. Pertama kopi robusta yakni 84 persen. Jenis ini paling banyak dikonsumsi. Kedua, kopi Arabica yakni sebanyak 14 persen. Kopi jenis ini paling disukai di dunia. Terakhir, kopi Liberica atau biasa disebut kopi robinson. Jumlahnya satu persen dan ditanam di daerah pasang surut. Karena jumlahnya sedikit sering dimasukkan ke dalam jenis robusta.
Beda setiap jenis ini pada rasanya. Kopi adalah komoditas rasa. Saya tidak katakan baik atau tidak baik karena ini soal selera. Yang paling banyak disukai adalah Arabica, diikuti robusta, kemudian robinson. Di dunia, 70 persen yang dikonsumsi adalah arabica baru robinson. 

Bagaimana dengan harga setiap jenis kopi tersebut?

Harga paling mahal adalah Arabica. Di terminal New York harganya 230 dolar sen perpon atau USD5,2 perkilogram atau Rp45 ribu perkilogram. Itu standarnya kopi produksi Brazil. Untuk kopi jenis Arabica dari Indonesia harganya ditambah 20 sampai 60 sen. Itu untuk grade 1 ekspor. Jika dirupiahkan seharga Rp60 ribu perkilogram. Harga jenis Arabica ini di petani Rp40 ribu sampai Rp50 ribu perkilogram. 
Untuk jenis Robusta, harga di Terminal London USD2.300 perton. Jika dirupiahkan Rp22 ribu perkilogram. Dalam SNI, kopi jenis ini standar mutunya grade 4. Sedangkan robinson harga dasarnya sama dengan robusta, ditambah sedikit saja. Penambahan tergantung daerahnya, berkisar Rp200 sampai Rp1.000.

Di Indonesia, sentra produksi kopi ada di mana?

Untuk sentra kopi Arabica ada di dataran Gayo (Aceh), dan dataran tinggi Sumatera Utara. Sebanyak 70 persen dari dua daerah ini. Selebihnya ada dari dataran tinggi Toraja, Jawa, Bali, Flores, dan sekarang berkembang di Papua. Kopi Arabica ini memang tumbuh baik di dataran tinggi, dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter. Untuk jenis robusta, banyak di Sumatera bagian selatan atau sering disebut segitiga emas kopi. Ada Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Di NTT, Bali, dan NTB juga ada. Di Kalimantan ada, tapi kecil sekali. Untuk jenis Robinson banyak, tetapi relatif. 

Saat ini banyak yang menyebut-nyebut kopi luwak. Apakah itu juga termasuk salah satu jenis kopi?

Kopi luwak itu merupakan salah satu varian produk yang prosesnya melalui sistem pencernaan lunak. Kalau dalam bahasa ilmiahnya disebut paradoxorus hermaproditus. Luwak adalah binatang yang sifatnya carnivora. Tetapi juga perlu vitamin dan gula. Vitamin dan gula ini diperoleh dari buah-buahan. Yang paling disukainya adalah kopi. Luwak aktif pada malam hari. Karena itu, dalam memetik kopinya tidak berdasarkan warna tetapi penciuman sehingga yang dipetiknya adalah yang benar-benar bagus. Hanya kopi yang masak optimum yang diambilnya. Setelah dipetik, kopi dimasukkan ke dalam mulut, kulit luarnya dilepaskan lagi. Yang masuk ke dalam hanya biji yang dilapisi lendir. Di lendir itu ada vitamin, mineral, dan air yang dicerna perutnya. Setelah dicerna 6 sampai 8 jam, biji keras dikeluarkan lagi. Kemudian harus langsung dikumpulkan dan dicuci bersih, setelah itu dijemur. Jika tidak cepat dikumpulkan, akan menyerap bau.

Untuk di Kalbar, bagaimana prospek pengembangan tanaman kopi?

Saya melihat konsumsi kopi di Singkawang, Bengkayang, dan Sambas sangat besar. Dari segi pasar, kondisinya sudah kuat. Di sini ada kustomer kopi fanatik. Masalahnya, saat ini kopi yang digoreng 99 persen dari luar Kalbar. Ada produksi kopi robinson di Sambas, tetapi tidak dipetik karena sedikit. Jika dipetik, hanya untuk konsumsi sendiri. Jika mau dikembangkan, harus disediakan bahan bakunya. Di sini berpeluang untuk tanaman kopi robusta dan robinson. Kalau pada daerah pasang surut, bagusnya kopi robinson.

Pertanyaan terakhir nih Pak, ada yang mengatakan kopi tidak baik untuk kesehatan. Bagaimana menurut Anda?

Banyak yang salah kaprah tentang hal tersebut. Kalau kopi yang diminum mutunya bagus, malah akan menyehatkan. Tetapi pengolahannya tidak boleh terkontaminasi benda asing, kopinya harus murni. Banyak penelitian yang menyatakan kopi baik untuk kesehatan...






«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Siape Saye? Unknown

Terlahir di desa Kuala Secapah, desa kecil yang terletak di pinggiran laut Kalimantan Barat. Hobby memancing, jalan-jalan, dan mencicipi kuliner di berbagai daerah serta mengisi waktu senggangnya di blogsphere. Untuk menambah jalinan silaturrahmi bisa menghubungi di bawah ini

Tidak ada komentar

Leave a Reply

Box Office

Cat-6